Close

Hari ini : 1 Total : 2977 Online : 1

  • Sabtu, 23 November 2019

  • MAIL

    smknahdliyatulislamiyah@gmail.com
  • TELEPON

    +62823 3762 2960

PENGALAMAN MENGENAI MOS/OSPEK

         Akhir-akhir ini kegiatan MOS/OSPEK sedang menjadi isu hangat di masyarakat. MOS merupakan singkatan dari Masa Orientasi Siswa, suatu kegiatan yang harus dilalui bagi para siswa baru yang biasanya dilakukan di jenjang SMP dan SMA, sedangkan pada saat masuk kuliah lebih dikenal dengan nama OSPEK, keduanya sama saja, hanya beda istilah.

 

Saat sekolah, saya pernah mengikuti MOS dan menjadi panitia yang menyelenggarakan MOS, saat kuliah pun seperti itu, pernah mengikuti dan menjadi panitia penyelenggara. Kegiatan MOS baru dimulai saat jenjang SMP. Seingat saya masa-masa MOS di SMP tidaklah begitu istimewa, karena sangat standar, jadi kita skip aja. Saat SMA kegiatan MOS cukup seru, seperti biasa para siswa baru akan diinstruksikan untuk memakai seragam dan asesorisnya yang aneh-aneh seperti menggantungkan permen yang dibuat menjadi kalung di leher, membuat papan nama yang terbuat dari kertas karton, topi yang terbuat dari pot bunga, dll. Para senior juga menginstruksikan beberapa barang yang harus dibawa namun dengan kalimat yang sangat ambigu, seperti “pisang dua sisir”, bisa berarti benar-benar membawa pisang dua sisir atau membawa satu pisang saja dengan dua buah sisir, dll.

 

Bagi saya apa yang diinstruksikan senior masih dalam tahap wajar, sekedar untuk seru-seruan dan kepuasan bagi mereka saja. Ya,,hanya sekedar “seru-seruan” dan “kepuasan” mereka saja. Karena kalau kita pikir, sedikitpun tidak ada manfaat dan unsur pendidikannya menggunakan dan membawa hal-hal aneh seperti itu. Saya rasa instruksi itu masih sangat mudah untuk saya kerjakan saat itu, karena bila kita lihat di media masa banyak sekolah-sekolah yang menginstruksikan hal-hal yang lebih aneh lagi, sehingga membuat para orang tua kewalahan untuk mencari kebutuhan MOS bagi anaknya. Namun masalah tidak tidak selesai sampai disana, ternyata kebutuhan untuk membeli barang-barang aneh itu menguras kantong para orang tua siswa. Bagi orang tua yang mampu tidak akan jadi masalah, namun bagaimana jika sang siswa baru berasal dari keluarga yang kurang mampu, syukur-syukur sudah bisa sekolah dan makan.

Waktu itu kegiatan-kegiatan MOS yang diadakan di SMA saya masih tergolong wajar, tidak ada kegiatan yang menguras fisik seperti lari, squadjump, push up, dll. Semua masih tergolong wajar, jika ada siswa baru yang melakukan kesalahan paling hanya disuruh menyanyi dan di bentak-bentak. Nah ini yang tidak saya lupa sampai sekarang, yaitu soal “bentak-bentak”. Saya sempat heran, ini senior kok kerjaannya teriak-teriak terus ya? bentak-bentak gak jelas. Gak ada salah apa-apa kami dibentak, di teriakin. Mungkin mereka ingin memberikan kesan “seram”, tapi bagi saya malah jadi lucu. Mungkin acara bentak-bentak seperti ini juga terjadi di sekolah lain. Sekali lagi, hal-hal seperti itu hanya menjadi “seru-seruan” dan “kepuasan” bagi senior saja. Alih-alih dijadikan alasan untuk membentuk mental para siswa baru, yang ada malah menjadi “menjijikkan” bagi saya. Melatih mental bukanlah dengan cara membentak siswa baru, suruh aja mereka perkenalkan diri sendiri pakai bahasa inggris, bisa gak bisa harus maju kedepan ngomong pakai bahasa inggris, dan masih banyak hal-hal positif dan mendidik lainnya untuk membentuk mental para siswa baru. Lagi-lagi ini adalah suatu hal yang sangat tidak mendidik.

Ilustrasi MOS

Setelah menjadi siswa baru, saya pun naik kelas dan menjadi senior. Kini giliran saya yang menjadi panitia MOS. Apa yang saya alami saat jadi siswa baru, itu pula yang akan saya lakukan kepada siswa baru dibawah saya. Saat itu saya hanya menjadi panitia biasa, bukan menjadi ketua panitia apalagi ketua OSIS. Ya memang benar, hal-hal tidak berguna di atas hanya menjadi seru-seruan dan kepuasan saya saja, hahahaha. Tapi ada yang beda saat saya menjadi panitia, ternyata acara bentak-bentak dan teriak-teriak itu memang sudah di setting oleh panitia untuk membuat siswa baru ketakutan. “Aktor” bentak-bentak ini sengaja dipilih dari teman-teman yang biasanya suka teriak-teriak kalau ngomong, walaupun sebenarnya mereka ini sangat-sangat baik dan seru, mungkin “bawaannya emang begitu” kalau kata orang. Tujuannya ya itu tadi, seru-seruan dan kepuasan kami. Puas rasanya bisa ngebentak adek tingkat dan ngelihat raut wajahnya ketakutan. hahahaha. Acara bentak-bentak ini saya gak ikutan, saya lebih memilih menjadi panitia di acara-acara permainan saja, lebih seru dan mengasyikkan.

Walaupun ada hal-hal bodoh dan tidak bermanfaat seperti di atas. MOS di SMA saya masih memberikan banyak manfaat, karena terdapat banyak acara yang melatih keterampilan berfikir para siswa, keberanian, pengambilan keputusan, kerja sama tim, dll. Jadi hal-hal positif yang ada masih jauh lebih banyak daripada hal negatifnya. Semua hal-hal yang tidak mengenakkan tadi berujung dengan acara maaf-maafan dan akrab-akraban karena pada dasarnya itu semua hanya sandiwara saja. hahaha. Mudah-mudahan di sekolah lain juga bisa seperti ini.

Ilustrasi MOS

Tiba juga jadi mahasiswa baru, saya pun harus di OSPEK lagi. Dimana-mana memang ada aja senior yang “menjijikkan”, yang angkuh lah, yang suka teriak-teriak gak jelas lah, yang jutek lah dan lain sebagainya. Berhubung saya udah pengalaman jadi panitia MOS waktu SMA, saya rasa ini hanya akal-akalan mereka aja untuk menakut nakuti mahasiswa baru. Terserahlah saya tidak peduli. Perlengkapan yang mesti saya bawa saat OSPEK justru malah lebih sederhana dibandingkan waktu saya MOS di SMA. Mungkin karena ini Fakultas Kedokteran, jadi para senior menjaga image untuk tidak melakukan kegiatan OSPEK layaknya orang bodoh dan gila yang mengalungi pete, menggunakan kaos kaki belang-belang, topi yang aneh-aneh, dll. OSPEK saya berpapasan dengan bulan puasa, jadi sedikitpun tidak ada kegiatan yang melibatkan fisik, paling-paling mesti jalan cepat saja dari satu pos ke pos lain. Setiap kegiatan di pos, semua berisi ilmu pengetahuan, sang senior memberikan pertanyaan mengenai segala hal yang berbau kedokteran, sebelumnya kami juga diberikan nama cantik (nama latin kedokteran) dan diharuskan mencari tahu apa artinya dan semua penjelasan yang berhubungan dengan nama cantik tersebut. Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa baru, karena mahasiswa baru dipaksa untuk belajar sebanyak-banyaknya sebelum mereka ikut OSPEK, bukannya dipaksa untuk menyiapkan asesoris-asesoris sampah seperti yang sering kita dengar sekarang ini.

Ilustrasi MOS

Tapi ternyata sama saja, acara bentak-bentak dan teriak-teriak masih aja terjadi disini, terlebih di pos Laboratorium anatomi. Alasannya sih kalau sudah dibentak-bentak sebelum masuk dan dibentak-bentak lagi saat masuk, si mahasiswa baru jadi tidak takut melihat organ tubuh yang berceceran dan mayat yang tergeletak. hahahaha,,entahlah, yang jelas bagi saya ini hanya sekedar untuk seru-seruan dan kepuasan bagi senior saja. Jadi di pos ini mahasiswa baru akan diberikan kata kunci untuk bisa masuk ke Lab anatomi, passwordnya dalam bahasa latin yang artinya “jenazah itu adalah guru kami”. Setelah hafal password akhirnya kami disuruh masuk, ruangannya gelap, hanya remang-remang saja. Di sana kami harus melewati beberapa meja, di setiap meja ada organ tubuh manusia dan kami harus menyebutkan nama organ tersebut. Di meja terakhir ada jenazah manusia dan jenazah bayi di dalam toples besar. Yang paling saya ingat saat saya disuruh menebak organ yang saya pegang, saya sempat bingung ini apaan, karena kondisi ruangan yang gelap dan bau formalin yang sangat kuat menusuk hidung dan mata. Ternyata setelah beberapa kali salah tebak dan kena bentak, akhirnya tebakan terakhir saya benar, itu adalah usus manusia. hahaha,,saya bingung sekali ini bentuknya seperti spageti namun sangat besar dan bergulung-gulung. Di meja jenazah, saya disuruh senior untuk menggendong jenazah bayi, teman di sebelah saya disuruh memijat jenazah orang tua. Hal paling sulit di pos ini adalah menahan bau formalin, saking kuatnya formalin di ruangan ini sampai membuat mata terasa pedas dan berair, kami sangat dilarang untuk mengusap air mata karena sangat berbahaya bagi keselamatan mata. Kesimpulannya OSPEK di kampus saya sangat memberikan banyak manfaat, walaupun ada satu atau dua orang senior yang menjengkelkan, teriak-teriak gak jelas, dll. Semua masih dalam batas wajar kalau menurut saya.

Saat saya di tingkat lanjut, saya menjadi anggota BEM dan ikut panitia OSPEK, kegiatan yang saya lalui dulu, terulang lagi di adek tingkat saya. Orang-orang yang bawaannya suka teriak-teriak, walaupun mereka ini sebenarnya sangatlah baik, menjadi panitia komite disiplin yang terkenal suka marah-marah dan bentak-bentak gak jelas. hahaha.. Tugas komite disiplin ini adalah untuk mendisiplinkan mahasiwa baru, menegur mahasiswa baru yang datangnya terlambat, peralatan gak lengkap, baju gak rapi, dll. Tidak diragukan  lagi, komite  disiplin inilah yang membuat acara OSPEK menjadi lebih seru. hahaha. Saya lebih tertarik menjadi PJ kelompok saja, saya males kalau mau ikutan ngebentak-bentak, yang ada malah dikatain mahasiswa baru dari belakang. hahaha. Kesimpulannya OSPEK di kampus saya sangat memberikan banyak manfaat.



Hikmah yang bisa diambil dari kisah di atas adalah :

Saya memang tidak pernah merasakan MOS/OSPEK kejam seperti yang sering kita dengar di media masa. Sebaiknya bagi sekolah dan kampus yang menyelenggarakan MOS/OSPEK dapat mengevaluasi kembali kegiatan yang selama ini sudah dilaksanakan khususnya bagi para anggota OSIS/BEM. Jangan sampai kegiatan tersebut diluar batas dan menyiksa (secara fisik dan batin) siswa/mahasiswa baru.

Bagi para senior/panitia, pastikan bahwa siswa/mahasiswa baru tidak memiliki penyakit-penyakit tertentu seperti asma, epilepsi, gagal jantung, dll. Hilangkanlah rasa “sok hebat” kalian sehingga bisa berteriak-teriak dan membentak anak orang seenaknya. Bagaimana jika orang tua dari anak yang kalian bentak itu melihatnya, dan bagaimana pula perasaan anda jika orang tua anda melihat anda dibentak oleh senior. Jangan jadikan “pembentukan mental” sebagai pembenaran bagi kalian untuk berteriak dan membentak anak orang lain, orang tua mereka saja belum tentu pernah membentak seperti anda membentak anak mereka. Intinya jangan “sok hebat”. Saya juga pernah menjadi senior dan walaupun saya senior, saya tetap membenci hal tersebut walaupun itu hanyalah sandiwara.

Bagi para guru/dosen, sebaiknya lebih memberikan pengawasan sehingga senior/panitia tidak semena-mena memperlakukan siswa/mahasiswa baru, karena pengalaman saya selama ini peran guru/dosen sangat minim dalam pengawasan kegiatan MOS/OSPEK.

Bagi para siswa/mahasiswa baru, ikuti saja perintah senior selagi masih dalam batas wajar demi keselamatan kalian dan teman-teman seangkatan kalian. Namun jika perintah senior dirasa sudah diluar batas seperti siang-siang disuruh lari keliling sekolah 10x, memakan permen yang sebelumnya sudah diemut teman kalian, squat jump, push up, dan aktifitas-aktifitas fisik berlebihan lainnya. Jangan takut untuk melapor guru/dosen dan orang tua kalian. Lain hal jika kalian masuk sekolah atau perguruan tinggi yang berbasis militer, aktivitas fisik, teriakan dan bentakan atau bahkan hinaan tentu menjadi hal yang lumrah dan wajib kalian lewati karena pendidikan militer sudah pasti sangat keras baik fisik maupun mental.

Saya yakin disetiap MOS/OSPEK pasti ada hal-hal bodoh dan tidak mendidik di dalamnya yang sulit untuk dihilangkan karena sudah menjadi tradisi turun menurun. Menurut saya, sah-sah saja hal-hal bodoh itu diperintahkan sekedar untuk seru-seruan, asalkan tidak berlebihan dan memberatkan siswa dan orang tua mereka. Memang akan lebih baik jika hal-hal bodoh itu tidak dilakukan, tapi tidak bisa langsung dihilangkan begitu saja kan, harus pelan-pelan.

FYI : hal-hal bodoh yang saya maksud adalah seperti menggunakan kaos kaki belang-belang, membuat kalung dari petai dan jengkol, memakai topi dari pot bunga/bola yang dibelah dua, menggunakan papan nama dengan foto pribadi yang dicoret-coret seperti badut dan kegiatan-kegiatan bodoh sejenis lainnya.